Sejarah Perkembangan Bilangan Matematika
Pendahuluan
Bilangan
merupakan materi matematika yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Hal ini karena
di dalamnya terdapat pengetahuan dasar mengenai matematika. Sebagai bagian
terpenting dari matematika, maka memahami bilangan adalah hal yang mesti
dilakukan oleh setiap orang di dalam hidupnya sehari-hari. Beraktivitas dalam
hal konsep bilangan ataupun lambang bilangan dalam kehidupan sehari-hari tentu
saja merupakan bagian dari penerapan matematika. Secara keseluruhan, dalam
perjalanan sejarah dikenal dengan matematika empiris sehingga muncul sejarah
matematika Babilonia, Mesir, Yunani, dan seterusnya. Pemaparan tentang sejarah
matematika yang secara khusus pembahasan tentang perkembangan bilangan di
sepanjang periode matematika empiris menjadi penting untuk dilakukan karena
dari zaman ke zaman kaidah konsep bilangan termasuk aksi membilang untuk memenuhi
kehidupan sehari-hari sangat dekat dan sangat erat serta dibersamai dengan
berbagai bukti peninggalan peradabannya.
1. Mesir
Bangsa
Mesir kuno telah menggunakan dalam perhitungannya suatu sistem bilangan desimal
(sistem puluhan) yang didasarkan pada jumlah jari di tangan manusia yaitu ada
sepuluh jari. Bangsa Mesir telah membuat kolom satuan, puluhan, ratusan, dan
seterusnya. Selain itu juga,Bangsa Mesir telah membuat lambang khusus untuk
angka satu di setiap digit. Mereka menggunakan setiap lambang sesuai dengan
nilai angka satu di masing-masing digit.
2. China
Bangsa
China berdasarkan catatan sejarah dianggap berjasa dalam pembuatan nilai untuk
setiap angka atau apa yang disebut dengan digit (kedudukan). Orang-orang dari
bangsa China mengenal angka-angka satuan seperti 1, 2, 3, ..., 9. Nilai
bilangan-bilangan juga dibedakan dengan menggunakan huruf abjad yang berkaitan
dengan digitnya.
3. Yunani
Bangsa Yunani juga telah menyusun sistem bilangan baru yaitu dengan menggunakan huruf-huruf Latin Kuno sebagai bilangan-bilangan. Jumlah huruf Latin Kuno yang digunakan Bangsa Yunani sebagai bilanganbilangan adalah dua puluh tujuh huruf dengan sistem bilangan yang terdiri dari tiga macam digit yaitu satuan, puluhan, dan ratusan.
4. Romawi
Bangsa Romawi menggunakan metode limaan-puluhan yaitu penggunaan bilangan lima dan sepuluh sebagai basis disertai dengan operasi penjumlahan dan pengurangan. Adapun dalam metode penulisan bilangan bangsa Romawi ini angka 1 dinotasikan dengan jari tangan yaitu satu garis vertikal. Angka lima dinotasikan dengan satu tangan yang isinya lima jari tetapi karena jari jempol berbeda bentuknya dengan keempat jari lainnya dalam tangan maka satu tangan digambar dengan V yang demikian menjadi notasi angka lima. Angka empat telah diontasikan dengan menggunakan operasi pengurangan dimana Bangsa Romawi menganggap empat adalah angka lima dikurangi angka satu maka angka empat dinotasikan dengan IV. Bilangan sepuluh dinotasikan dengan dua tangan, satu tangan di atas dan satu tangan di bawah.
Kesimpulan
Adapun berbagai penemuan tersebut dapat terjadi karena kebutuhan masyarakat di masanya masing-masing yang mendesak untuk suatu sistem bilangan agar dapat digunakan dalam hal melakukan segala perhitungan yang berkaitan dengan berbagai aktivitas sehari-hari. Kemudian relevansi konsep bilangan dari masa ke masa untuk periode matematika empiris dalam realitas pembelajaran peserta didik di masa kini terlihat masih ada yang relevan masih dikaji ke dalam muatan substansi kurikulum dan ada juga yang tidak relevan dalam arti kata tidak termasuk ke dalam muatan substansi kurikulum.




Comments
Post a Comment